Di dunia pendidikan sekarang muncul istilah baru yaitu PPG ( Propesi Pendidikan Guru). yang ditunjukan kepada calon-calon guru di seluruh Indonesia terutama di Kalsel. untuk Kalimantan Unlam ditunjuk sebagai pelaksana PPG tersebut. untuk apa PPG dan bagaimana PPG tersebut?????
PPG adalah pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu para tenaga pendidik nantinya yang berlangsung selama satu tahun setelah menyandang gelar sarjana. kita diarahkan untuk terjun langsung ke lapangan atau sekolah-sekolah yang ditunjuk dengan mendapatkan tunjngan selayaknya pegawai negeri. tapi disini kita diwajibkan benar-benar menjadi guru yang profesional sesuai dgn ilmu pendidikan guru yang telah di dapatkan. keuntungan lain dari PPG yang lain adalah selepas mendapatkan sertipikat PPG kita langsung menjadi pegawai negeri dgn gaji 2x lipat layaknya guru-guru yang lulus sertifikasi.
Tapi PPG ini sendiri mengancam nasib para calon. kenapa demikian?????karena PPG ini dilaksanakan dgn seleksi yg ketat dan formasi yang sangat terbatas. untuk kalsel kemungkinan formasi yg disediakan hanya 50 sedangkan mahasiswa FKIP UNLAm setiap tahun nya bisa mengeluarkan sarjana ratusan orang. belom lagi untuk Universitas lain nya yang jg mencetak calon guru. selain itu dari informasi yg di dapat untuk penerimaan PNS untuk selanjutnya bila PPG sudah dilaksanakan tidak ada lagi formasi untuk guru karna sudah dilaksanakan lewat PPG. nah kalau sudah begitu bagaimana nasib calon guru yg tidak lulus-lulus PPG..apakah pemerintah sudah memperhitungkannya…kalau pemerintah tidak bijak dalah melaksanakan hal ini maka makin bertebaranlah sarjana pengangguran….semoga saja PPG ini dilaksanakan dengan perhitungan yg jelas agar tidak merugikan nasib calon Oemar Bakri.












Syamsuddin Ideris berkata,
Mei 18, 2009 @ 5:03 am
Saya setuju dengan adanya PPG. Anggap saja PPG sebagai sarana finishing sang calon guru agar nanti kalau terjun ke lapangan lebih kinclong.
Alasannya: menurut pengalaman dan penilaian saya: ilmu yang didapat semasa kuliah di S1 pendidikan kurang matching dengan tuntutan kerja di lapangan. Yah istilahnya lain teori lain di lpangan.
Mungkin dengan adanya ppg yang mensyaratkan PPL lagi, tentunya kualitas sang calon guru akan lebih meningkat. Mengenai jatah yang terbatas dan ketatnya persaingan tentunya menjadi sarana seleksi alam agar yang lulus jadi guru adalah orang yang benar-benar mampu. Kalau tidak lulus PPG? berarti belum mampu jadi guru dan harus belajar lebih banyak lagi tentang dunia pendidikan.
syamsul berkata,
Mei 18, 2009 @ 3:23 pm
Teori tentang ganti rezim ganti kebijakan mungkin masih terjadi pada PPG, but yg penting kita jangan sampai menjadi kelinci percobaan dari kebijakan itu. kalau PPG memang benar di laksanakan mungkin PKL selama 2 bulan juga harus di tinjau ulang.
Pakacil berkata,
Mei 20, 2009 @ 7:02 am
rasa-rasanya jika memang optimis dan mampu untuk bersaing serta menunjukkan kualitas, tidak perlu bingung.
Justru tanpa adanya kualifikasi dan seleksi yg tepat akan kian membuat dunia pendidikan kita berada dalam pertarugan yg sangat besar.
Mufti AM berkata,
Mei 27, 2009 @ 1:10 pm
Kualitas juga harus dibarengi dengan tersedianya sarana dan prasarana serta kesempatan untuk meningkatkan kualitas para guru itu sendiri.
Pengangguran Menulis Mimpi berkata,
Juni 3, 2009 @ 5:32 am
setuju dengan Pakacil dan Klo Memang Tak bisa bersaing atau gagal.. jangan menyerah, ciptakan lapangan pekerjaan…, tak selalu kita harus menunggu-nunggu
galuhmanulis berkata,
Juni 3, 2009 @ 3:34 pm
Mudah-mudahan, pemerintah bisa segera tanggap n memperbaikinya.
Karna kita semua berharap pendidikan Indonesia bisa semakin baik, dan guru-gurunya jga semakin berkualitas.
Diah ZN berkata,
Juni 8, 2009 @ 7:09 am
Saya sependapat, semoga dengan PPG akan melahirkan guru yang benar-benar profesional yang secara nyata. Bukan sekedar abstrak saja, dengan adanya PPG dan memoerketat penyeleksiaannya akan membuat sadar sebagai renungan bagi para calom guru yang handal. Dan Jangan dianggap SEPELE. lahirkan BIBIT UNGGUL, terutama tertanam dari Guru, kemudian baru siswanya.
(FBS, Unnes, Semarang)
sriudin berkata,
Juni 8, 2009 @ 3:00 pm
Boleh az klo umpat bkasak, ulun kada mahasiswa PJJ pank…..ulun Kul di PGSD Banjarbaru nach….www.s1pgsd.blogspot.com
sriudin berkata,
Juni 8, 2009 @ 3:01 pm
he….he..
anggi berkata,
Juli 6, 2009 @ 12:34 pm
tp knp mahasiswa yg ambil jurusan ilmu murni jadi punya 2 title yakh ,sedangkan yang pendidikan itu cm 1 title…
misal ilmu murni olahraga dg pendidikan olahraga.
knp yang ilmu murni itu dpt gelar ssi & spd(bisa buat ngajar pula) sedangkan yang pendidikan cm (spd) doang..padahal pendidikan yang dijalani kan beda….n apa ini gag merugikan mahasiswa yang ambil pendidikan….
mohon penjelasan……………..
Mia berkata,
Juli 14, 2009 @ 7:13 am
Itulah dunia pendidikan kt mba….tdk mempunyai jati diri…sesuatu yg dbuat mbuat bingung byk org bahkan malah merugikan…..hal yg mba ungkapkan diatas jelas sangat mrugikan mahasiswa bdng pendidikan..otomatis dunia kerja smakin sulit krn doubel gelas tsb..
adit berkata,
Juli 10, 2009 @ 6:06 am
PPG memang baik buat peningkatan kualitas guru,,tapi yang menjadi pertanyaan saya apa PPG hanya diperuntukkan untuk sarjana pendidikan???
Titho berkata,
Agustus 6, 2009 @ 9:54 am
Yaa… SungGuh Qt jdi klinci percobaan lagi dalam hal PPG ni,, Di Makassarpun akan diadakan dmikian. Sebagaimna yg pnh sy baca bahwa tidak menutupi Kemungkinan srjana2 Lu2san Non-pendidikan dpat menggeser posisi Qt (sbg calon sarjana Pendidikan) merebut kursi dlam pnerimaan guru dstiap daerah.
Yaaa.. Hadapi saja n perlu persiapan mnghadapi
arifa berkata,
Agustus 12, 2009 @ 6:25 am
kalau memang berani bersaing jangan takut dengan adanya PPG..yach yang penting kita harus belajar n belajar menjadi guru yang profesional dengan ada atau tidaknya PPG tau yang lain..nah siapa tahu ketika PPG itu memang benar-benar ada, kita jadi orang yang sudah siap mengikutinya karena kita sudah banyak karya…semangat jadi tenaga didik!!!
amran berkata,
September 4, 2009 @ 4:15 pm
enah belajar dari mana para birokrat penentu kebijakan kita. segalanya dibuatnya ribet. kecenderungannya memberi peluang untuk disalah gunakan(korup). padahal kebijakan tersebut bisa jadi sama sekali tidak menjawab masalah kesejahtraan tenaga pendidik di negeri ini. hari ini pendidikan benar-benar menjadi lahan basah dan sumber proyekan tuk cari keuntungan. BHP, Sertifikasi, PPG, dll. belum lagi komersialisasi di kampus2. usul saya lembaga-lembaga pendidikan di negeri ini bikin tempat hiburan (diskotik, lokalisasi, dan temapt perjudian) biar gak tanggung hancur.
NOVA SUSANTI berkata,
September 11, 2009 @ 3:16 am
kapan buka pendaftaran PPG
dan universitas mana di medan
mia berkata,
Oktober 9, 2009 @ 10:02 am
untuk di luar kalimantan saya kurang tau mba…..
ona berkata,
Oktober 3, 2009 @ 10:12 am
yahh…..begitulah………
hidup itu emg prjuangan………
stlah qt ber ikhtiar dgn skuat tnga….hsil akhirnya ttplah Allah SWT yang menenttukan…….rizki mah ada yg ngatur….bgitu jg dgn pkrjaan……..
smg Allah SWT melimpahkan rahmad&karunianya kpd qt smw…..amiiin
irul berkata,
Oktober 4, 2009 @ 10:44 am
klo begitu kenapa hrs ada ilmu pendidikan??? knp tdk ilmu murni semua sj…klo toh jg ada ppg yg diperuntukkan untuk smua jurusan…………………because kasian yang fkip.smg sll ada jln yg terbaik…amin
Adjie berkata,
Oktober 4, 2009 @ 9:39 pm
kapan ya dibuka PPG untuk semua dari non kependidikan, balas donk di email saya. tk
mia berkata,
Oktober 9, 2009 @ 10:06 am
saya kurang tau mas….tok kalimantan itu msh rencana
mabrudy berkata,
Oktober 7, 2009 @ 3:34 pm
PPG, why not.?
SUKER AL-ASKOLANI berkata,
Oktober 11, 2009 @ 11:06 pm
Ass.Kapan ya di kota tangerang di buka untuk pendaftaraan PPG?…Makasih banyak,
Ersis Warmansyah Abbas berkata,
Oktober 16, 2009 @ 6:43 am
IKuti aja dulu … pemeritah, orang-orang yang ngurus pendidikan lagi keatif kalau ngak coba-coba … eit, hati-hatilah mahsiswa FKIP, kuatkan kompetisimu ,,, ntar kalau kalah dari pendidikan lain-lain jadi ngak lucu
taofik muhammad berkata,
Oktober 21, 2009 @ 12:47 am
yang saya tidak suka adalah orang-orang dari non-dik/non kependidikan bisa masuk ke PPG lalu dia jadi guru. Bukan apa-apa, saya sering sakit hati dengan mereka yang dulunya tidak minat jadi guru karena terpepet eh jadi guru juga. Biasanya orang seperti itu pas pertamanya, ngapain sih jadi guru gajinya dikit. Tapi, karena kepepet dalam artian lapangan kerja non dik, lebih sedikit daripada pendidikan akhirnya mereka jadi guru juga. Difasilitasi pula lah dengan PPG.
Salam dari mahasiswa UPI Bandung, buat Unlam
johan cahyo b berkata,
Oktober 28, 2009 @ 1:18 pm
terima kasih dengan program ppg yang dibuat pemerintah. nasib kamin (jurusan non kependidikan) heheh