Arsip untuk September, 2008

Startifikasi Sosial Menurut Ukuran Kekayaan(Rumah)

Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial dapat diukur menurut berbagai segi diantaranya berdasarkan ukuran kekayaan yang menjadi pembeda antarwarga di lingkungan masyarakat yang menjadi tuntutan gengsi kemasyarakatan.

Kekayaan (materi/kebendaan) dapat dijadikan ukuran atau anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak maka ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan sedang atau bahkan lapisan terbawah. Kekayaan tsb dapat dilihat salah satunya pada bentuk tempat tinggal. Pada dasarnya pembentukan pelapisan sosial diukur dari kekayaan atau orang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang saling berkaitan. Contoh yang mudah kita amati adalah bila orang kaya atau mempunyai jabatan kebanyakannya mempunyai rumah yang mewah terbuat dari beton, sedangkan sebaliknya orang yang mempunyai pekerjaan biasa-biasa saja biasanya mempunyai rumah yang sederhana terbuat dari papan. Dari hal itu saja jelas sekali terlihat statifikasi sosial sudah terjadi karena bentuk rumah yang mewah itulah menjadi sebuah gengsi bagi pemiliknya karena dinilai berada di kelas sosial tinggi. Baca entri selengkapnya »

Komentar (7) »

Belajar Pendidikan Sejarah Membosankan

Predikat “ Membosankan “ pada pelajaran sejarah belum juga hilang. Hal ini disebabkan karna metode yang digunakan guru selalu saja ceramah. yang akhirnya membuat pelajaran ini tidak menarik, membosankan, membuat mengantuk dan menjenuhkan. Karna hal ini diharafkan guru-guru mata pelajaran Sejarah dapat menemukan pendekatan dan strategi yang tepat untuk mengatasi hal ini agar predikat “ Membosankan “ dapat dihilangkan, sehingga dapat membangkitkan motivasi siswa dalam mengikti pelajaran ini.

Jadi untuk menangani hal ini tidak ada salah nya guru mencoba media teknlogi informasi agar jalannya proses belajar mengajar tidak menjenuhkan walaupun metode ceramah masih dapat digunakan. Baca entri selengkapnya »

Komentar (5) »